Tiba-tiba saja ingin bahas soal sinetron, sebenarnya ini karena saya merasa prihatin pada keluarga saya khususnya nenek, tante, dan ibu saya (maap jdi buka aib nih :D ) yg setiap hari tidak pernah lepas dari cengkraman "Sinetron"!!! untuk itu saya membuat posting tentang sinetron plagiator, ngomong2 plagiator saya jadi ingat salah satu band lokal agar tidak menyinggung sebut saja joroks.red yg dijuluki plagiator sejatinya L'Arc~en~Ciel".
Sinetron yang mendominasi layar kaca di Indonesia sebenarnya merupakan adaptasi (baca: jiplakan) dari berbagai tayangan drama yang populer di negeri asalnya seperti Korea, Jepang, Taiwan, dan sebagainya. Berikut daftarnya:
1. 2 Hati (Snow Angel)
2. Benar-Benar Cinta (Devil Beside You)
3. Benci Bilang Cinta (Goong/Princess Hours)
4. Benci Jadi Cinta (My Girl)
5. Berani Tampil Beda (The Magicians of Love/Ai Qing Mo Fa Shi)
6. Bintang (Huan Zhu Ge Ge)
7. Bukan Diriku (Anything for You)
8. Buku Harian Nayla (Ichi Rittoru No Namida/1 Litre of Tears)
9. Cincin (Beautiful Days)
10. Cinta Remaja (My Sassy Girl Choon Hyang)
11. Cowok Impian (It Started With a Kiss)
12. Darling (My Name is Kim Sam Soon)
13. Dua Hati Satu Cinta (Qin Shen Shen Yu Meng Meng)
14. I Love You, Boss! (Bright Girl’s Success Story)
15. Intan (Be Strong Geum Soon)
16. Janji Jaya (My Name is Kim Sam Soon)
17. Katakan Kau Mencintaiku (Sad Love Song)
18. Kawin Muda (My Little Bride)
19. Liontin (Glass Shoes)
20. Pacarku Besar Sekali - FTV (My Name is Kim Sam Soon)
21. Pangeran Penggoda (Devil Beside You)
22. Pengantin Remaja (My Little Bride)
23. Rahasia Pelangi (Love Apart a Moment)
24. Sumpeh Gue Sayang Loe (Smiling Pasta)
25. Siapa Takut Jatuh Cinta (Meteor Garden)
26. Wulan (Term of Endearment)
Termasuk beberapa sinetron yang dibuat dengan meminta lisensi dari pembuat drama aslinya, seperti:
1. Impian Cinderella (Prince Who Turns into Frogs)
2. Kau Masih Kekasihku (At the Dolphin Bay)
3. Penyihir Cinta (Magician of Love)
4. Putri Kembar (100% Senorita/Twins)
Pertanyaannya sekarang, mengapa sinetron bisa begitu meraja lela? Kalau menurut saya:
* Masyarakat Indonesia secara umum belum bisa menilai mutu/kualitas suatu tayangan dengan akurat. Misalnya, banyak tayangan asing yang sangat laku di negara asalnya tetapi justru jeblok ratingnya ketika ditayangkan di Indonesia. Begitu juga sebaliknya.
* Banyak masyarakat kita yang menonton televisi hanya untuk pleasure, menghibur diri. Apalagi kaum pria, yang kebanyakan menonton hanya untuk menghibur mata — selain mencari informasi dan tayangan olahraga (sepakbola).
* Penonton dari strata kelas menengah atas yang “sulit dibohongi” oleh sinetron-sinetron murahan seperti Anda, mungkin lebih prefer untuk membaca, surfing internet, menonton DVD, bermain console game, atau hang out sebagai sarana hiburan. Kalaupun menonton televisi, pasti menggunakan satelit/TV kabel yang pilihannya jauh lebih beragam dan berkualitas.
* Ujung-ujungnya, sinetron akan kian diminati, permintaan pasar terus bertumbuh, dan pembodohan masal terus bergulir. Lingkaran setan yang tiada berujung.
Sebenarnya lama lama saya Jengkel juga dengan "Punjabi cs" yg membawa virus dari India ke Indonesia. Tapi mau gimana lagi? Namanya juga orang cari uang...
Tapi,Sampai kapan fenomena ini bertahan? Sulit ditentukan. Selama jumlah penontonnya masih bejibun, selama production house masih produktif memproduksi (baca: menjiplak), dan sampai kita masih belum tersadarkan diri, fenomena ini masih akan berlangsung lama.
Yang jelas, kalau fenomena ini dibiarkan berlarut-larut, serial bagus dan membumi seperti Bajaj Bajuri atau Office Boy mungkin akan segera punah. Sinetron berkualitas seperti Dunia Tanpa Koma (DTK) bakal tak laku lagi. Tayangan berita seperti Liputan 6 dan Headline News mungkin akan segera dilikuidasi. Pembuat film/FTV indie mulai menggadaikan idealismenya. Divisi in-house production akan dimerger. Pimpinan kreatif berganti nama menjadi pimpinan copy-paste.
Dan setiap televisi akan berlomba-lomba menayangkan sinetron setiap saat.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua yang menonton sinetron sama sekali tidak cerdas. Namun, sebelum perekonomian bangsa ini benar-benar pulih sehingga bisa menciptakan generasi intelek yang bisa menyadari bahwa dirinya sedang ditipu sinetron-sinetron tersebut, saya cuma bisa menyarankan, mari kita sama-sama untuk tidak menonton sinetron.
Buat om Ram Punjabi... Maap ya saya ngejelek-jelekin sinetron :D
Minggu, 09 November 2008
SINETRON PLAGIARISME
Diposting oleh Zara Adrian di 10.22
Langganan:
Comment Feed (RSS)
New Posting
Visitors
gambar



|